Listen Qur'an

Curhat Kepada Allah

Sabtu, 27 November 2010
Sungguh dalam pergantian waktu ada beragam keajaiban, dalam pergantian keadaan ada pelajaran. Bencana datang bertubi-tubi, tapi penyimpangan semakin banyak, arus materialisme semakin menguasai kebanyakan manusia, sehingga mereka ingkar kepada Rabb-nya, akhirnya, hubungan mereka dengan Rabb-nya semakin melemah.

Mereka mengandalkan hal-hal yang bersifat materi belaka, lalu datanglah gelombang kegoncangan dan kekacauan jiwa, kelelahan dan kehinaan. Rasa takut terhadap masa depan mewabah. Mereka takut memikirkan masa depan, sementara mereka tidak memperdulikan Allah yang menciptakan mereka, Allah pun tidak memperdulikan mereka.

"Hai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah ; dan Allah-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji." (QS. Fathir : 15)

Semua makhluk fakir kepada Allah. Mereka membutuhkan Allah dalasetiap perkara dan keadaan, dalam setiap masalah, baik masalah yang sepele maupun berat. Sedangkan dizaman ini, manusia lebih banyak bergantung kepada selain manusia, manusia yang satu mengadu yang lain. Memang tidak ada salahnya manusia dimintai tolong dalam urusan yang mereka mampui. Akan tetapi, jika meminta kepada mereka, bergantung kepada mereka, maka yang seperti ini adalah kebinasaan yang sebenarnya.

"Barang siapa bergantung kepada sesuatu maka nasibnya akan diserahkan kepada sesuatu itu." (HR. an-Nasa'i)

Seringkali kita mengandalkan diri dan kecerdasan kita dengan penuh kecongkakan, kesombongan, dan kebanggan. Mengapa kita tidak meminta pertolongan dan petunjuk kepada Allah dengan banyak berdoa?? Terus menerus menjalin hubungan dengan-Nya dalam segala hal, baik dalam keadaan sempit maupun lapang. Pikiran seperti itulah yang oleh sebagian manusia dijadikan alternatif yang terakhir.

Kesusahan, kesulitan, kesempitan, ketakutan, kekhawatiran, dan kebingungan adalah warna yang slalu menghiasi lembaran hidup manusia.

Ada yang hanya menyesali nasib, ada yang putus asa hingga memilih untuk "menyudahi" problem hidupnya dengan bunuh diri. Ada yang meminta wejangan para dukun. Ada lagi yang curhat kepada sesama manusia, yang sebenarnya sama-sama sedang menghadapi masalah. Tak jarang curhat itu malah menjadi ajang maksiat, terutama jika seseorang curhat terhadap lawan jenis.

Ironis memang, mereka pontang-panting mencari jalan keluar kepada sesama makhluk yang serba lemah dan kekurangan, lalu melupakan Sang Khaliq yang berkuasa atas segala sesuatu, yang cukup berfirman "Kun...Jadilah..!" niscaya jadilah apa yang Dia kehendaki.

Sungguh tempat kembali hanyalah kepada Allah, kembali kepada-Nya dalam segala keadaan, dalam setiap kesulitan dan kesedihan. Dialah petunjuk jalan keluar dari kelemahan kita, kelesuan, kerendahan, dan kehinaan kita.

Dunia ini memang dihiasi dengan musibah dan bencana, ujian dan cobaan, kepedihan yang menghimpit jiwa, kegelisahan dan kecemasan.

Berapa banyak mata yang menangis di dunia ini?? Berapa banyak hati yang dilanda kesedihan?? Berapa jumlah orang yang tidak berpunya??

Yang ini mengeluhkan penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Yang itu mengeluhkan kesedihan dan musibah yang menimpanya. Orang mulia jadi terhina, orang kaya jadi miskin. Yang lain mengeluhkan perdagangannya yang merugi, sedang si pelajar mengeluhkan banyaknya tugas dan bahan ujian yang dihadapinya.

Itulah dunia, tertawa dan menangis, berkumpul dan berpisah, kesempitan dan kelapangan, bahagia dan sengsara. Maha Benar Allah yang berfirman : " (kami jelaskan yang demikian itu) supaya jangan kamu berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membangkangkan diri." (QS. Al-Hadid : 23)

Pertanyaan yang pasti adanya adalah kepada siapa mereka mengeluhkan segala permasalahannya, dan kepada siapa mereka menengadahkan tangannya??

Sebagian manusia yang banyak mengandalkan orang lain yang juga sama dengan mereka. Mencari muka kepada sesama hamba Allah, mereka meminta dan terus meminta, memuji dan menyanjung, bahkan ada yang mendatangi para dukun.

Dimanakah iman kita kepada Allah?? Dimanakah letak tawakal kita kepada Allah?? Dimanakah letak kepercayaan dan keyakinan kita kepada Allah??

Tidakkah kita pernah mendengar seseorang yang mengadu kepada Allah, sampai-sampai tali sandal mereka yang putus pun mereka adukan kepada Allah?? Ya, sampai urusan tali sandal mereka meminta kepada Allah, bahkan garam pun mereka meminta kepada Allah.

Mana pengaduan kita kepada Allah??
Mana doa yang terus menerus dan kerendahan diri kita??
Apakah kita akan mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita??
Subhanallah, bukankah kita sangat butuh kepada Allah??

Padahal dia telah berfirman, " Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku kabulkan." (QS. Ghafir : 60)

Demi Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.
Demi Allah, tidak ada kesembuhan kecuali dengan izin Allah.
Tidak ada yang menghilangkan bencana kecuali Allah.
Tidak ada petunjuk, kebahagiaan dan keberuntungan, tidak pula kesuksesan kecuali dari Allah.

Muslim and Muslimah
Yang mengherankan sekaligus aneh adalah setiap muslim tau akan masalah ini, mengakui hal ini dan bahkan bersumpah bahwa memang demikian adanya. Lalu mengapa hati masih bergantung kepada makhluk yang lemah dan penuh kekurangan?? Mangapa kita masih mengeluh ke sesama makhluk??

Wahai orang yang sedang kesakitan...
Wahai orang yang sedang tertimpa musibah dan kezhaliman....
Wahai orang yang sedang di dera kesempitan dan kesedihan...
Wahai orang yang mencari kebahagiaan kehidupan rumah tangga...
Wahai orang yang ingin mendapatkan kemudahan dalam pekerjaan dan sekolahnya...
Wahai orang yang mempunyai perhatian terhadap masalah yang sedang dihadapi kaum muslimin...
Wahai orang yang membutuhkan pertolongan ...

Jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah, dan katakanlah " Ya Sami'an Li Kulli Syakwa " ( Wahai Yang Mendengar Semua Keluh Kesah).
Bertawakallah kepada Allah, sampaikan dengan tulus bahwa engkau adalah hamba-Nya, sujudlah pada-Nya dengan penuh khusyu', ucapkan dengan lirih dan berulang-ulang.

" Ya Sami'an Li Kulli Syakwa "
Engkaulah pemberi kelezatan ..
Tatkala kesempitan menguasai diri
Engkaulah tempat kembali
Bagi yang terasa buntu jalan pikiran
Engkaulah yang diseru dalam setiap kejadian
Engkaulah adalah Ilah
Sumber kekayaan dan harapan

Engkaulah harapan bagi orang yang tertutup jalannya
Engkaulah petunjuk bagi yang tersesat jalannya

Kami jadikan Engkau tujuan dan harapan
Dalam setiap doa dan kesempitan

" Jadilah seperti anak kecil di hadapan orang tua. Jika menginginkan sesuatu dari kedua orang tuanya lalu ia tidak mendapatkannya, maka ia akan menangis dihadapan keduanya. Demikian juga kita, jika kita meminta kepada Allah lalu Allah belum memberikannya kepada kita, maka bersimpuh dan menangislah di hadapan-Nya "

2 komentar:

  1. Anonim mengatakan...:

    Bagus...

Poskan Komentar